Sumber: tribunnews.com |
Kadangkala, manusia sering keliru dalam mengambil keputusan, dan menyesalinya dikala semua hal buruk telah terjadi. Mungkin karena sifat emosional seorang manusia, ditambah dengan ketidakbijakannya dalam berpikir untuk membedakan hal baik dan buruk dalam keadaan dirinya yang tidak stabil. Maka tak jarang ia sering melakukan hal-hal buruk yang tidak pernah direncanakan atau bahkan terpikirkan dalam waktu yang singkat, namun mengakhiri sesuatu selama-lamanya. Banyak penyebabnya manusia melakukan tindakan bodoh dan konyol. Khususnya dalam urusan hati, yang jika dia terluka maka akan susah diobati. Hal ini karena manusia diselimuti oleh perasaan mudah tersinggung dan mudah terbawa perasaan. Teringat oleh sebuah potongan lirik lagu jadul yang menginspirasi, yaitu “mendingan sakit gigi, dari pada sakit hati”. Mungkin sebagian orang mengatakan lirik lagu ini memang benar, karena sakit hati memang tak terlihat tapi lebih sakit dari sakit gigi, juga sembuhnya sakit hati lebih lama daripada sakit gigi. Beberapa orang juga berpendapat bahwa, sakit hati sulit mengobatinya ketimbang sakit gigi, karena tak pernah ada orang yang meninggal bunuh diri akibat sakit gigi, melainka banyak yang bunuh diri karena sakit hati.
Alasan bunuh diri karena sakit hati banyak kita temui di berbagai belahan
dunia manapun, khususnya di Indonesia. Hanya karena tersinggung, marah, atau
cemburu, mereka rela mengorbankan masa depan dan cita-cita yang sejak lama
terpendam. Sakit hati adalah alasan yang lumrah kita dengar. Sebagai contoh
kasusnya, baru 1 Minggu yang lalu, tepatnya Senin, 19 Maret 2018, di Kota
Gorontalo, seorang gadis muda berinisial D telah menambah barisan daftar orang
bunuh diri dengan cara gantung diri hanya karena sakit hati yang dikarenakan
masalah percintaan. Ini menjelaskan bahwa miris, manusia-manusia itu tak
sekali-sekali berpikir ulang tentang apa yang mereka perbuat. Jika dirinya
sendiri tak mereka pikirkan, apalagi orangtua yang menjadi orang pertama, yang
terluka akan keputusan konyol yang diambil oleh para korban. Tanpa berpikir
panjang, manusia-manusia itu telah merugikan diri sendiri. Padahal, mereka
tidak tahu bahwa tindakan ini tidak akan menghasilkan solusi sama sekali. Tali
adalah satu-satunya penolong untuk mengakhiri masalah, mungkin inilah yang
terlintas dalam benak para korban bunuhdiri. Olehnya, gantung diri adalah satu
alternatif yang tepat dan cepat. Padahal, dalam ajaran Islam bunuhdiri
benar-benar tidak diperbolehkan. Maka penulis berpikir, “Jika larangan Tuhan
tak didengarkan, apa nasihat seorang manusia bisa diterima?”. Maka berarti
orang-orang yang punya keberanian dan sudah nekad bunuh diri ini telah berada
diujung atau ditingkat depresi tertinggi. Makanya, kesempatan sang iblislah
membawa orang ini untuk ikut bersamanya kedalam lubang hitam yang menyesatkan. Maka,
tinggal dikembalikan lagi kepada manusia itu sendiri, seberapa kuat imannya.
Kita semua pun berharap agar kejadian tersebut bisa menjadi penutup
kisah-kisah tragis dari ulah manusia-manusia yang putus asa dan tidak percaya
Tuhan sebagai penolong masalahnya. Semua kita kembalikan kepada Individu
masing-masing. Iman yang kuat dibutuhkan agar terhindar dari kesesatan seperti
itu. Manusia diberi keistimewaan berupa akal untuk berpikir secara sempurna.
Tapi masih banyak juga yang keliru menggunakannya. Jatuh cinta tak perlu
berlebihan, apalagi sampai membuat kita meregang nyawa. Jika kamu percaya akan
cinta Tuhan dan Orangtua, lalu untuk apa kau harus mengejar cinta oleh
orang-orang yang belum tentu tulus untukmu? Dan lagipula, untuk apa
mengorbankan hidup hanya untuk orang yang belum tentu dia jodohmu. Bukankah
setiap masalah pasti punya jalan keluar atau solusi? Jadi, berpikirlah sebelum
bertindak atau mengambil keputusan dan jangan hanya pikirkan diri sendiri,
melainkan kita juga harus memikirkan Orang Tua dan Keluarga. (Opn/PM.BTG/Mutia)
Post a Comment